Sabtu, 31 Maret 2012

Dzikir ke-5



اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ


“Ya Allah, limpahkanlah shalawat untuk Nabi Muhammad, Ya Allah limpahkanlah salam untuk beliau.”

Penjelasan
Dzikir ke-5 dalam urutan Râtib Al-Haddâd, sudah tidak asing lagi di telinga dan lisan kita. Kaum muslimin telah banyak mengetahui keutamaan dalam membacanya. Ya, dzikir ini adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Telah banyak dalil atau argumentasi yang menjadi dasar membaca shalawat serta keutamaan yang ada di dalamnya. Tidak ketinggalan, para ulama banyak menulis buku-buku yang mengupas secara mendalam tentang amalan yang satu ini.

Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shâhibur Râtib, tidak lupa memasukkan shalawat di dalam râtib-nya, karena beliau tahu betapa besar kemuliaan orang yang membaca shalawat. Cukup sebagai bukti keagungan shalawat, manakala dalam shalat dan khutbah jum`at, tidak dibacakan shalawat maka batallah kedua perbuatan tersebut.
Beberapa dalil mengenai membaca shalawat adalah firman Allah SWT :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs. Al-Ahzâb [33] : 56)

Shalawat dari Allah berarti memberi rahmat; dari malaikat berarti memintakan ampunan; dan dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan, ‘Allâhumma shalli `alâ Muhammad.’

Pada suatu hari, wajah nabi terlihat berbinar-binar saat tiba di hadapan para sahabatnya. Memang, setiap hari nabi selalu berwajah ceria ketika bertemu dengan siapapun, namun kali binar wajahnya jauh lebih terang dari biasanya.
Setelah itu, Nabi bersabda, “Baru saja Jibril datang kepadaku. Jibril berkata, ‘Tuhanmu berfirman, “Tidakkah engkau suka, seseorang dari umatmu yang bershalawat untukmu, Aku beri sepuluh rahmat? Dan tidaklah seseorang beruluk salam satu kali untukmu, kecuali aku beruluk salam kepadanya sebanyak sepuluh kali?”’ Keutamaan yang besar dan luar biasa ini langsung disampaikan oleh Allah kepada nabi lewat Jibril: 10 rahmat dan salam diguyurkan kepada diri kita manakala kita membaca shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, tidak cukup hanya membaca shalawat saja seperti yang sering dipahami dan diamalkan selama ini, namun juga mencantumkan ‘salam’ di dalamnya, seperti yang telah ditulis oleh Shâhibur Râtib: “Allâhumma Shalli `alâ Muhammad, Allâhumma Shalli `alaiyhi wa Sallim.”

Mengapa membaca shalawat perlu dibarengi dengan membaca salam pula? Seorang di antara ulama bercerita bahwa di tengah usahanya menulis hadits, ia bershalawat untuk nabi namun tanpa beruluk salam. Suatu malam, ia bermimpi Nabi SAW lalu nabi berkata kepada ulama ini, “Mengapa engkau tidak menyempurnakan shalawat untukku dalam buku yang kamu tulis?” Setelah terjaga dari tidurnya, mulai sejak itu ia selalu menulis shalawat dan salam.

Lebih dari itu, keutamaan bagi orang yang banyak membaca shalawat dan salam masih terlalu panjang untuk disampaikan. Namun beberapa hal yang perlu kita ketahui, akan kita sampaikan secara ringkas.

Di masa Nabi Musa, hiduplah seseorang dari Bani Israil yang membuka Kitab Taurat. Di sela membaca, ia menemukan nama Muhammad SAW, kemudian ia membaca shalawat kepada nabi. Berkat ia membaca shalawat ini, Allah memberikan ampunan kepadanya dan memerintahkan Nabi Musa untuk memandikan dan menshalati jenazahnya.

Abdullah bin Umar meriwayatkan hadits yang artinya, “Barangsiapa membaca shalawat untuk Nabi SAW satu kali, Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat sebanyak tujuh puluh kali.

Orang yang membaca shalawat, kelak tempat duduknya dekat dengan Rasulullah: “Sesungguhnya manusia yang utama (dekat) di sisiku adalah manusia yang paling banyak membaca shalawat untukku.”

Orang yang membaca shalawat, diberi 10 rahmat dan 10 pengampunan dosa : “Barangsiapa di antara umatmu yang membaca shalawat untukku satu kali, dicatat baginya 10 kebaikan dan dihapuskan 10 kesalahannya.”

Selain itu, membaca shalawat lebih diutamakan pada malam Jum`at dan hari Jum`at, seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas, “Aku mendengar Nabi kalian bersabda, ‘Perbanyaklah membaca shalawat untuk nabi kalian pada malam Jum`at dan hari Jum`at.”

oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad

Jumat, 30 Maret 2012

Dzikir ke-4




رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَتُبْ عَلَيْناَ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحيمُ


"Ya Allah, Ampunilah dosa kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Penjelasan

Dalam Al-Qur`an, Allah SWT berfirman yang isinya kabar gembira bagi siapa saja yang serius memohon ampun kepada-Nya:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nisâ` [04] : 110).

Firman Allah SWT yang lain :

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (Qs. An-Nashr [110] : 03).

Imam Turmudzi dan Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Umar yang berkata, “Sebelum Rasulullah SAW berdiri dari sebuah majlis, beliau menghitung 100x dalam membaca, ‘Rabbigh-Fir lîy wa Tub `alayya, Innaka Antat-Tawwâbur-Rahîm.’”

Tidak ada satu manusia pun yang lepas dari jerat dosa dan perbuatan maksiat, sadar maupun tidak sadar. Manusia memang tempat salah salah dan dosa. Lewat membaca istighfâr sebagaimana ditulis dalam Ratib ini, Allah menjanjikan ampunan bagi setiap orang yang membacanya (istighfar).

Perbuatan dzalim kita kepada Allah, diri kita sendiri, maupun kepada orang lain, akan menemukan penggugurnya jika kita bersungguh-sungguh dalam membaca dan merenungi dzikir berisi permohonan ampun atas segala khilaf ini.

Nabi SAW pernah bercerita, ada seorang pendosa, ia belum pernah mengerjakan perbuatan baik sedikit pun. Menandakan bahwa ia mengisi umurnya dengan keburukan.

Suatu saat, ia melihat ke langit. Ia pandangi langit dengan seksama. Lalu, ia berkata, “Aku punya Tuhan. Rabbigh-Fir lîy (ampunilah aku)!”

Allah SWT berkata kepadanya, “Aku telah ampuni dirimu.”

Dalam sebuah hadits, Nabi kita yang mulia menyatakan beberapa keutamaan dalam memperbanyak membaca istighfar, diantaranya:

-    Kecemasan pada diri pembacanya, akan dihilangkan diganti dengan kebahagiaan
-    Kesempitan / kesulitan yang melanda hidup pembacanya, diganti dengan jalan kelapangan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa banyak membaca istighfâr, Allah akan merubah kecemasannya menjadi kegembiraan, kesempitannya menjadi kelapangan jalan keluar, dan melimpahkan rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.”

Di zaman Bani Israil, hiduplah seorang yang bergelimang dosa. Hidupnya penuh maksiat dan perbuatan buruk lainnya. Pada suatu hari, ia berjalan dan tiba-tiba saja ia teringat dosa-dosa yang pernah dikerjakan.

“Ya Allah, ampunilah aku, ya Allah!” katanya memohon ampunan kepada Allah. Tidak lama setelah mengucapkan kata-kata itu, ia meninggal dunia. Demi mendengar permohonannya yang tulus dari hamba-Nya, Allah berkenan mengampuni sehingga semua dosa-dosa di masa hayatnya terhapus.

Jauh lebih dari itu, seorang Nabi Muhammad yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT, baik dosa yang telah lalu dan akan datang, tidak membuat diri beliau jumawah. Hal ini terbukti dari diri beliau sendiri yang setiap hari memohon ampun kepada Allah tidak kurang dari 70x.

Oleh karena itu, menjadi lebih pantas dan layak bagi kita untuk memperbanyak membaca istighfar yang berisi permohon ampun kepada Allah atas segala perbuatan lalai kita.

oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad

Selasa, 27 Maret 2012

DZikir ke - 3

Dzikir ke-3

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظيم 

Penjelasan
Imâm Bukhâri meriwayatkan dalam Shahîh-nya, bahwa ada seorang sahabat datang menemui Nabi Muhammad SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, saat ini dunia tengah menjauh dari hidupku dan aku tengah berada dalam kekurangan.”

Kemudian Rasul SAW menjawab, “Apakah kamu lupa tentang bacaan shalatnya malaikat dan tasbihnya seluruh makhluk yang dengan bacaan tersebut, mereka diberi rezeki?”

“Apa itu, wahai Rasul?”

“(Bacalah) Subhâna-Llâh wa bi Hamdih, Subhâna-Llâhil A`dzîm, beristighfarlah sebanyak 100x di waktu antara terbitnya fajar sampai kamu shalat subuh, niscaya dunia akan menghampirimu dengan penuh kemudahan dan Allah ciptakan dari setiap kata yang kamu baca seorang malaikat yang bertasbih kepada-Nya sampai hari kiamat dimana pahalanya diberikan kepadamu.”

Saat Rasûlullah SAW di ambang kemangkatannya, beliau memanggil putrinya, Fâtimah Az-Zahrâ`, lalu berkata, “Aku perintahkan engkau membaca, ‘Subhâna-Llâh wa bi Hamdih.’ Sesungguhnya ia adalah bacaan shalat semua makhluk dan dengan bacaan itu juga mereka diberi rezeki.

Dalam kitab Syarh Al-Washiyyah, disebutkan keutamaan dalam membaca Subhâna-Llâh sebagai berikut:

-          Ucapan yang paling dicintai oleh Allah
-          Ucapan yang paling utama
-          Orang yang membacanya akan dituliskan baginya 124 ribu kebaikan
-          Ucapan itu dicintai oleh Allah lebih daripada seseorang yang menginfakkan sebuah gunung emas di jalan Allah
-          Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan orang yang membacanya, meski dosanya sebanyak buih di lautan

Aneka keutamaan yang telah dijelaskan tersebut, masih ditambah pula dalam keterangan lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Riwayat ini disampaikan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Turmudzi. Rasulullah SAW bersabda, “Ada 2 kata yang mudah diucapkan di lisan, 2 kata yang memiliki bobot berat dalam timbangan amal, 2 kata yang disukai di sisi Yang Mahapengasih : ‘Subhâna-Llâh wa bi Hamdih, Subhâna-Llâhil A`dzîm’

oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad

Minggu, 25 Maret 2012

Dzikir ke-2




سُبْحانَ اللَّهِ، والحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَر
Penjelasan

Rasulullah SAW telah bersabda, “Membaca Subhânalla-Lâh Wal Hamdu LilLâh Wa Lâ Ilâha Illa-Llâh Wa-Allâhu Akbar, lebih aku sukai dari terbitnya matahari.”

Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan membaca dzikir ini, dengan bersabda, “Jika kalian melewati taman-taman surga, maka mampirlah.”

Sahabat bertanya, “Apa taman surga yang dimaksud itu?”

Beliau menjawab, “Subhânalla-Lâh Wal Hamdu LilLâh Wa Lâ Ilâha Illa-Llâh Wa-Allâhu Akbar.”

Diriwayatkan pula bahwa Nabi SAW bersabda, “Di malam aku diperjalankan oleh Allah (malam Isra`-Mi`raj), aku bertemu Nabi Ibrahim, beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad! Sampaikanlah salamku kepada umatmu. Beritahukan kepada mereka bahwa surga itu sebaik-baik tanah, airnya segar, dan tanaman di dalamnya adalah berupa kalimat Subhânalla-Lâh Wal Hamdu LilLâh Wa Lâ Ilâha Illa-Llâh Wa-Allâhu Akbar.’”

Dari sini, nabi mewartakan kepada kita bahwa, “Barangsiapa yang membacanya, maka satu pohon di surga akan ditanamkan untuknya.”

Telah dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa Nabi SAW lewat di depan sebuah pohon yang daun-daunnya telah mengering. Dengan tongkatnya, nabi memukul Pohon tersebut hingga daun-daun pohon jatuh berguguran. Kemudian, beliau bersabda,

“Membaca “Subhânalla-Lâh Wal Hamdu LilLâh Wa Lâ Ilâha Illa-Llâh Wa-Allâhu Akbar,” akan menggugurkan dosa-dosa seorang hamba, seperti daun-daun pohon yang berguguran ini.”

Lebih dari itu, Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan, dari Sa`id bin Jubair bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail -`alaihimas-Salâm- ketika beliau berdua akan mengangkat tiang-tiang baitullah (ka`bah), beliau berdua membaca, ‘Subhânalla-Lâh Wal Hamdu LilLâh Wa Lâ Ilâha Illa-Llâh Wa-Allâhu Akbar.’

Begitu selesai membacanya, maka bebatuan yang besar berdiri dengan sendirinya tanpa dipikul oleh beliau berdua.

Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali mengatakan dalam kitab Al-Arba`în Al-Ashl, bahwa dzikir ini merupakan bacaan yang paling utama dengan beberapa alasan:

Pertama, ucapan Subhânalla-Lâh, mengandung penyucian terhadap Allah dan telah menjadi sifat Allah yang sebenarnya, Mahasuci, tidak ada satu makhlukpun yang menyerupai-Nya.

Kedua, ucapan Al-Hamdu LilLâh, mengandung pengakuan seorang hamba bahwa sumber segala limpahan nikmat itu datangnya hanya dari Allah semata. Karenanya, Allah-lah satu-satunya Dzat yang paling layak dipuji, sebab Dia-lah yang memberikan semua kenikmatan yang ada di dunia ini kepada seluruh makhluk.

Ketiga, ucapan Lâ Ilâha Illa-Llâh, mengandung ungkapan tulus dari seorang hamba bahwa tidak ada satupun yang lebih berhak disembah kecuali Allah SWT.

Keempat, ucapan Allâhu Akbar, mengandung ungkapan bahwa Allah Dzat Yang Mahabesar, tidak ada yang besar kecuali Dia, bahkan selain-Nya tak lebih merupakan cahaya dari beberapa cahaya kekuasaan-Nya. Sehingga tidak akan mungkin seseorang akan mampu kebesaran Allah kecuali Allah semata.

Shohibur Ratib (pengarang ratib), Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad, mengatakan bahwa dzikir kedua ini merupakan salah satu dzikir yang paling utama dan paling banyak mengumpulkan kebaikan dari setiap orang yang membacanya.

Dzikir ini mengandung 40 huruf, maka jika kita membacanya sebanyak tiga kali, sebagaimana yang tertulis dalam Ratib ini, berarti ada 4200 pahala di dalamnya.


insya allah bermanfaat

Dzikir ke-1:

لا إلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ على كُلّ شَيْءٍ قَدِير

Penjelasan

Imam Nawawi memberi keterangan terkait bunyi dzikir tersebut dalam bukunya Al-Adzkar. Beliau menngatakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda : “Barangsiapa yang membaca Lâ Ilâha Illa-Lallâh Wahdahu Lâ Syarîka Lah, Lahul Mulku wa Lahul Hamdu wa Huwa `alâ Kulli sya`in Qadîr, pahala senilai membebaskan seorang budak dari keturunan Ismail, ditulis sepuluh kebaikan untuknya, diangkat derajatnya hingga sepuluh derajat, dan si pembaca terlindungi dari gangguan setan sampai ia berada di sore hari.”

Seseorang yang membaca kalimat tersebut di sore hari, maka ia pun akan dilindungi oleh Allah dari godaan setan sampai keesokan harinya. Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa membacanya (membacanya dzikir tersebut) di sore hari ia mendapatkan hal yang sama (dari keutamaan membacanya) sampai tiba di pagi hari.”

Jika seseorang membacanya sebanyak tiga kali seperti dalam Ratib Al-Haddad, berlaku kelipatannya: membebaskan 3 budak, tercatat 30 kebaikan baginya, terhapus 30 kesalahannya, dan lebih mendapat perlindungan.

Terkait keutamaan pahala ‘membebaskan budak’ dari keturunan Nabi Ismail bagi siapa yang membaca kalimat itu, telah disebutkan pula dalam sebuah hadits yang bunyinya, “Barangsiapa membebaskan seorang budak dari keturunan Ismail, seakan ia telah membebaskan 12 budak dari selain keturunan beliau. Membebaskan tiga budak dari keturunan Ismail, ia mendapat pahala seperti membebaskan 36 budak dari selain keturunan Ismail, 30 kebaikan, diampuni 30 kesalahannya, dan diangkat hingga 30 derajat.”

Keutamaan berikutnya, telah disebutkan oleh Ats-Tsa`labiy dalam kitab tafsirnya, dari Ali bin Husin, ia berkata, “Dahulu ada seseorang yang berperang di jalan Allah dan ketika ia sampai di tempat asing ia membaca :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Pada suatu hari, lanjut Sayidina Ali bin Husain, orang tersebut datang ke sebuah tempat di negeri Romawi yang di dalamnya ada seseorang yang mengenakan gamis, berpakaian putih, dan menunggang kuda. Lalu orang ini kaget lantas mengangkat suaranya membaca :

لا إلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ

Tiba-tiba muncul seseorang yang berpakaian putih dan menunggang kuda tadi, bertanya, “Wahai hamba Allah! Apa yang barusan engkau baca?”

“Aku membaca seperti apa yang engkau dengar.”

Kata sosok penunggang kuda ini, “Demi Jiwaku yang ada dalam genggaman kekuasaan-Nya, ‘sesungguhnya bacaan itu adalah bacaan yang Allah firmankan dalam Al-Qur`an :

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَهُمْ مِنْ فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آَمِنُون

“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.” (Qs. An-Naml [27] : 89).

https://www.facebook.com/FadhilahRatibAlHaddad

Jumat, 16 Maret 2012

Kematian Pasti Datang

Segelumit kisah yang insya allah membuat kita semua terenyuh bahwa sanya kita hidup di dunia ini tidak akan lama/Tidak akan kekal/Tidak akan ABADI

*100 Hari Tanda-tanda Menjelang Kematian Manusia*
” Tanda 100 hari mau meninggal “


Ini adalah tanda pertama dari ALLAH SWT kepada hambanya dan hanya akan
 Disadari oleh mereka yang dikehendakinya……

Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini hanya saja
 mereka menyadari atau tidak…..

Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu ashar, seluruh tubuh
 yaitudari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau
 seakan-akan menggigil.

Contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti, kita akan mendapati
 daging tersebut seakan -akan bergetar……

Tanda ini rasanya nikmat dan bagi mereka yang sadar dan berdetik dihati
 bahwa mungkin ini adalah tanda mati, maka getaran ini akan berhenti dan
 hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini.

Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan
 kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu
 saja tanpa sembarang manfaat…

Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini, maka ini adalah peluang
 Terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

” Tanda 40 hari sebelum hari mati “


 Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu ashar, bagian pusat kita
 Akan berdenyut-denyut pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan
 Gugur dari pokok yang letaknya diatas arash ALLAH SWT, maka malaikat maut
 akan mengambil daun tersebut dan mulai melakukan persiapan
 atas pencabutan nyawa kita,antaranya ialah ia akan mulai mengikuti kita sepanjang masa …
 Akan terjadi malaikat maut ini memperlihatkan wajahnya sekilas.

jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan
 bingung seketika…

” Tanda 7 hari “


Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan
 musibah kesakitan dimana orang sakit yang tidak makan, secara tiba-tiba
 ia berselera untuk makan…

( Mungkin barokah atau  kenikmatan hidup yang diberikan Allah untuk hamba tersebut untuk detik-detik terakhir )

” Tanda 3 hari “
( masih berhubungan dengan tanda-tanda menjelang kematiannya seseorang, bagi orang yang tengah dilanda sakit. Tanda ini mungkin tidak terjadi pada orang yang sehat. )

Jika ini terjadi pada kita yang sedang sakit, maka akan terasa denyutan di bagian tengah dahi kita yaitu
 diantara dahi kanan dan dahi kiri, jika tanda ini dapat dirasakan maka
 berpuasalah kita setelah itu supaya perut kita tidak mengandung banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti….

Kalau sedang mengamati orang yang sedang sakit parah, dan sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja, maka perhatikan tanda-tanda ini :

Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang
 yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat terlihat
 jika kita melihatnya dari bahagian samping…

Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-angsur masuk
 Ke dalam…

Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan
 sukar ditegakan…

” Tanda 1 hari “

Akan berlaku sesudah ashar dimana kita akan merasakan satu denyutan di
 sebelah belakang yaitu di kawasan ubun-ubun dimana ini menandakan kita
 tidak akan sempat untuk menemui waktu ashar keesokan harinya….

” Tanda akhir “ Akan terjadi keadaan dimana kita akan merasakan sejuk dibagian pusat dan
 rasa itu akan turun kepinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian
 Halkum…Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimat SYAHADAT dan berdiam diri
 dan menantikan kedatangan malaikat maut untuk menjemput kita kembali
 kepada ALLAH SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan kita pula…wallah’ualam…

Kalau diantara kita ada yang menyadari saat -saat tersebut…..mungkin sudah saatnya buat kita untuk, minta maaf dengan seluruh anggota keluarga, saudara, sahabat, teman, dan tak lupa sesama sahabat blogger. Meskipun seandainya kita seumur hidup berbuat jahat selalu,Semoga saat kita dicabut nyawanya,kita dalam keadaan berbuat baik.
Amiiiiin… Amin. Amin. Yarabbal a`lamin

Subhanallah walhamdulilah walaila haillallah wallahu akabar
kullun nafsi dzaikotul maut
mari perbanyak amal ibadah kita semua, agar bekal yang kita bawa dari alam dunia ini mempermudah kita dan sedikit pelindung bagi kita nanti,,, amin yarabbal alamin

Wallahu wa`lam bissawab

Kamis, 15 Maret 2012

Segelumit Kalam Dari Al-Habib Salim bin Abdullah Asy-Syatiri 
Ringkasan Ulasan tentang Fadhilah Burdah


Burdah artinya mantel dan juga dikenal sebagai Bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan). Al-imam Busyiri adalah seorang penyair yang suka memuji raja-raja untuk mendapatkan uang. Kemudian beliau tertimpa sakit faalij (setengah lumpuh) yang tak kunjung sembuh setelah berobat ke dokter manapun.
Tak lama kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah S.A.W. yang memerintahkannya untuk menyusun syair yang memuji Rasulullah. Maka beliau mengarang Burdah dalam 10 pasal pada tahun 6-7 H. Seusai menyusun Burdah, beliau kembali mimpi bertemu Rasulullah yang menyelimutinya dengan Burdah (mantel). Ketika bangun, sembuhlah beliau dari sakit lumpuh yang dideritanya.
Qoshidah Burdah ini tersebar ke seluruh penjuru bumi dari timur ke barat. Bahkan disyarahkan oleh sekitar 20 ulama, diantaranya yang terkenal adalah Imam Syaburkhiti dan Imam Baijuri.
Habib Husein bin Mohammad Alhabsyi (saudara Habib Ali Alhabsyi sohibul maulid Simtud Duror) biasa memimpin Dalail Khoiroot di Mekkah. Kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah yang memerintahkannya untuk membaca Burdah di majlis tersebut. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah berkata bahwa membaca Burdah sekali lebih afdol daripada membaca Dalail Khoiroot 70 kali.
Ketika Hadramaut tertimpa paceklik hingga banyak binatang buas berkeliaran di jalan, Habib Abdulrahman Al Masyhur memerintahkan setiap rumah untuk membaca Burdah. Alhamdulillah, rumah-rumah mereka aman dari gangguan binatang buas.
Beberapa Syu’araa (penyair) di zaman itu sempat mengkritik bahwa tidaklah pantas pujian kepada Rasulullah dalam bait-bait Burdah tersebut diakhiri dengan kasroh/khofadz. Padalah Rasulullah agung dan tinggi (rofa’). Kemudian Imam Busyiri menyusun qoshidah yang bernama Humaziyyah yang bait-baitnya berakhir dengan dhommah (marfu’).
Imam Busyiri juga menyusun Qoshidah Mudhooriyah. Pada qoshidah tersebut terdapat bait yang artinya, ‘Aku bersholawat kepada Rasulullah sebanyak jumlah hewan dan tumbuhan yang diciptakan Allah.’ Kemudian dalam mimpinya, beliau melihat Rasulullah berkata bahwa sesungguhnya malaikat tak mampu menulis pahala sholawat yang dibaca tersebut.
Habib Salim juga bercerita tentang seseorang yang telah berjanji kepada dirinya untuk menyusun syair hanya untuk memuji Allah dan Rasulullah. Suatu ketika ia tidak mempunyai uang dan terpaksa menyusun syair untuk memuji raja-raja agar mendapat uang. Ia pun mimpi Rasulullah berkata, “Bukankah engkau telah berjanji hanya memuji Allah dan Rasul-Nya?! Aku akan memotong tanganmu…”
Kemudian datanglah Sayidina Abubakar r.a. meminta syafaat untuknya dan dikabulkan oleh Rasulullah. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia pun langsung bertobat. Kemudian ia melihat di tangannya terdapat tanda bekas potongan dan keluar cahaya dari situ.
Habib Salim mengatakan bahwa Burdah ini sangat mujarab untuk mengabulkan hajat-hajat kita dengan izin Allah. Namun terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi. Yaitu mempunyai sanad ke Imam Busyiri, mengulangi bait ‘maula ya solli wa sallim…’, berwudhu, menghadap kiblat, memahami makna bait-bait, dibaca dengan himmah yang besar, beradab, memakai wewangian.
Khusus tentang memakai wewangian ini, Habib Salim mengatakan, ‘Tidak seperti orang sekarang, membaca Burdah namun badannya bau rokok. Padahal salaf telah sepakat untuk mengharamkan rokok.’
Di akhir ceramah beliau, Habib Salim menyampaikan bahwa jika seseorang tidak berjalan di thoriqoh aslaf maka dikhawatirkan tiga hal. Pertama, umurnya pendek. Kedua, Hidup dalam keadaan bingung/akalnya gila. Ketiga, tak akan dihargai masyarakat.

Senin, 12 Maret 2012

Cara Abu Nawas Merayu Tuhan

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.
Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.
“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.
“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.
“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.
“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.
Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.
“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.
“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.
“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.
Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.
“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.
“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.
“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.
***
Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.
Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.
“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.
“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.
“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.
“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.
“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.
“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.
Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.
“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.
“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.
“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.
“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.
“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.
“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahlak, Wala Afwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).
Banyak orang yang mengamalkan doa yang merayu Tuhan ini,,,
KAPAN KITA AKAN MENGAMALKANYA

Abu Nawas dan Harimau Berjenggot

“Hai Abu Nawas,” seru Khalifah Harun Al-Rasyid. “Sekarang juga kamu harus dapat mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, jika gagal, aku bunuh kau.”
Kata-kata itu merupakan perintah Sultan yang diucapkan dengan penuh tegas dan kegeraman. Dari bentuk mulutnya ketika mengucapkan kalimat itu jelas betapa Sultan menaruh dendam kesumat kepada Abu Nawas yang telah berkali-kali mempermainkan dirinya dengan cara-cara yang sangat kurang ajar. Perintah itu merupakan cara Baginda untuk dapat membunuh Abu Nawas.
“Ya tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “semua perintah paduka akan hamba laksanakan, namun untuk yang satu ini hamba mohon waktu delapan hari.”
“Baik,” kata Baginda.
Alkisah, pulanglah Abu Nawas ke rumah. Agaknya ia sudah menangkap gelagat bahwa Raja sangat marah kepadanya, dicarinya akal supaya dapat mencelakakan  diriku, agar terbalas dendamnya,” pikir Abu Nawas. “jadi aku juga harus berhati-hati.”
Sesampainya di rumah dipanggilnya emapt orang tukang kayu dan disuruhnya membuat kandang macan. Hanya dalam waktu tiga hari kandang itu pun siap sudah. Kepada istrinya ia berpesan agar menjamu orang yang berjenggot yang datang kerumah. “Apabila adinda dengar kakanda mengetuk pintu kelak, suruh dia masuk kedalam kandang itu,” kata Abu Nawas sambil menunjuk kandang tersebut. Ia kemudian bergegas pergi ke Musalla dengan membawa sajadah.
“Baik,” kata istrinya.
“Hai Abu Nawas, tumben Lu shalat di sini?” bertanya Imam dan penghulu mushalla itu.
Sebenarnya saya mau menceritakan hal ini kepada orang lain, tapi kalau tidak kepada tuan penghulu kepada siapa lagi saya mengadu,” jawab Abu Nawas. “Tadi malam saya ribut dengan istri saya, itu sebabnya saya tidak mau pulang ke rumah.”
“Pucuk dicinta, ulam tiba,” pikir penghulu itu. “Kubiarkan Abu Nawas tidur disini dan aku pergi kerumah Abu Nawas menemui istrinya, sudah lama aku menaruh hati kepada perempuan cantik itu.”
“Hai Abu Nawas,” kata si penghulu, “Bolehkah aku menyelesaikan perselisihan  dengan istrimu itu?”
“Silakan,” jawab Abu Nawas. “Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan hati tuan.”
Maka pergilah penghulu ke rumah Abu Nawas dengan hati berbungan-bunga, dan dengan wajah berseri-seri diketuknya pintu rumah Abu Nawas. Begitu pintu terbuka ia langsung mengamit istri Abu Nawas dan diajak duduk bersanding.
“Hai Adinda,,,” katanya. “Apa gunanya punya suami jahat dan melarat, lagi pula Abu Nawas hidupnya tak karuan, lebih baik kamu jadi istriku, kamu dapat hidup senang dan tidak kekurangan suatu apa.”
“Baiklah kalau keinginan tuan demikian,” jawab istri Abu awas.
Tak berapa lama kemudian terdengar pintu diketuk orng, ketukan itu membuat penghulu belingsatan, “kemana aku harus bersembunyi ia bertanya kepada nyonya rumah.
“Tuan penghulu….”  Jawab istri Abu Nawas, “Silahkan bersembunyi di dalam kandang itu,” ia lalu menunjuk kandang yang terletak di dalam kamar Abu Nawas.
Tanpa pikir panjang lagi penghulu itu masuk ke dalam kandang itu dan menutupnya dari dalam, sedangkan istri Abu Nawas segera membuka pintu, sambil menengok ke kiri-kanan, Abu Nawas masuk ke dalam rumah.
“Hai Adinda, apa yang ada di dalam kandang itu.?” Tanya Abu Nawas.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Istrinya. “Apa putih-putih itu?” tanya Abu Nawas, lalu dilihatnya penghulu itu gemetar karena malu dan ketakutan.
Setelah delapan hari Abu Nawas memanggil delapan kuli untuk memikul kandang itu ke Istana. Di Bagdad orang  gempar ingin melihat Harimau berjenggot. Seumur hidup, jangankan melihat,  mendengar harimau berjenggot pun belum pernah. Kini Abu Nawas malah dapat seekor. Mereka terheran-heran akan kehebatan Abu Nawas. Tetapi begitu dilihat penghulu di dalam kandang, mereka tidak bisa bilang apa-apa selain mengiringi kandang itu sampai ke Istana hingga menjadi arak-arakan yang panjang. Si penghulu malu bukan main, arang di muka kemana hendak disembunyikan. Tidak lama kemudia sampailah iring-iringan itu ke dalam Istana.
“Hai Abu Nawas, apa kabar?” tanya Baginda Sultan, “Apa kamu sudah berhasil mendapatkan harimau berjenggot?”
“Dengan berkat dan doa tuanku, Alhamdulillah hamba berhasil,” jawab Abu Nawas.
Maka dibawalah kandang itu ke hadapan Baginda, ketika Baginda hendak melihat harimau tersebut, si penghulu memalingkan mukanya ke arah lain dengan muka merah padam karena malu, akan tetapi kemanapun ia menoleh, kesitu pula Baginda memelototkan matanya. Tiba-tiba Baginda menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub, sebab menurut penglihatan beliau yang ada di dalam kandang itu adalah penghulu Musalla. Abu Nawas buru-buru menimpali, “Ya tuanku, itulah Harimau berjenggot.”
Tapi baginda tidak cepat tanggap, beliau termenung sesaat, kenapa penghulu dikatakan harimau berjenggot, tiba-tiba baginda bergoyang kekiri dan ke kanan seperti orang berdoa. “Hm, hm, hm oh penghulu…”
“Ya Tuanku Syah Alam,” kata Abu Nawas, “Perlukah hamba memberitahukan kenapa hamba dapat menangkap harimau berjenggot ini di rumah hamba sendiri ?”
“Ya, ya,” ujar Baginda sambil menoleh ke kandang itu dengan mata berapi-api. “ya aku maklum sudah.”
Bukan main murka baginda kepada penghulu itu, sebab ia yang semestinya menegakkan hukum, ia pula yang melanggarnya, ia telah berkhianat. Baginda segera memerintahkan punggawa mengeluarkan penghulu dari kandang dan diarak keliling pasar setelah sebelumnya di cukur segi empat, agar diketahui oleh seluruh rakyat betapa aibnya orang yang berkhianat.

Abu Nawas dan Mimpi Indah

Seorang pendeta dan seorang rahib berencana memperdayai Abu Nawas. Rencanapun disusun rapid an mereka segera bertandang kerumah Abu Nawas yang disambut baik oleh yang empunya rumah.
“Kami ingin mengajakmu melakukan pengembaraan suci, wahai Abu Nawas. Kami berharap engkau tidak keberatan dan dapat bergabubg bersama kami,” ujar si Rahib sambil melirik pada kawan di sebelahnya.
“Dengan senang hati aku akan ikut, kapan rencananya?” Tanya Abu Nawas.
“Besok pagi ujar si Pendeta gembira.
“Baiklah kitabertemu dwarung teh besok,” uhar Abu Nawas.
Demikianlah keesokan harinya Abu Nawas beserta dua orang yang mengajaknya ini berangkat bersama. Mereka berpakaian dengan cara yang khas. Abu Nawas dengan pakaian sufi, si Pendeta dengan baju kebesarannya, dan si Rahib dengan pakaian keagamaannya. Di tengah perjalanan mereka bertiga mulai merasa lapar.
“Hai Abu Nawas, karena kita sudah sudah lapar dan kebetulan kita tidak membawa bekal, ada baiknya engkau mengumpulkan derma untuk membeli makanan bagi kita bertiga. Kami berdua akan melakukan kebaktian,” ujar si Pendeta.
Tanpa berpikir panjang, Abu Nawas langsung beranjak pergi mencari dan mengumpulkan derma dari satu dusun ke dusun yang lain. Setelah dirasa derma yang diterima mencukupi, Abu Nawas langsung membali makanan yang cukup untuk mereka bertiga. Abu Nawaspun kembali kepada dua temannya yang tengah melakukan kebaktian.
“Mari kita bagi makanan ini sekarang juga,” ujar Abu Nawas yang memang sudah sangat lapar.
“Jangan, jangan dibuka sekarang, karena kami sedang berpuasa,” ujar sang Rahib.
“Tapi aku hanya akan mengambil bagianku saja, sedang bagian kalian terserah kalian,” ujar Abu Nawas.
“Aku tidak setuju, kita harus seiring seirama dalam berbuat apapun,” ujar si Pendeta.
“Betul aku juga tidak setuju, karena waktu makanku besok pagi,” ujar si Rahib yang ahli Yoga menimpali.
Tentu saja Abu Nawas sangat usar mendengar pernyataan kedua orang itu. Perutnya yang keroncongan memaksanya kembali memperotes.
“Bukankah aku yang kalian suruh mencari derma dan sudah kukumpulkan derma itu dan sekarang telah kubelikan makanan. Mengapa kalian tidak mengizinkan aku mengambil bagianku sendiri? Sungguh tidak masuk akal,” ujar Abu Nawas memperotes.
Namun dua orang itu tetap teguh pada pendiriannya sekalipun Abu Nawas dengan segala macam cara menjelaskan tetap saja si Rahib dan Pendeta bergeming. Hal ini membuat Abu Nawas dongkol bukan main, tapi karena dirasa tidak ada gunanya menentang dua orang yang sudah bersekongkol itu, Abu Nawaspun memilih diam.
“Bagaimana kalau kita buat perjanjian?” ujar sang pendeta tiba-tiba.
“Perjanjian apa?” Tanya Abu Nawas.
“Kita adakan lomba, siapa yang nanti malam bermimpi paling indah, maka dia berhak atas bagian makanan yang lebih banyak. Sedang yang kedua mendapat bagian lebih sedikit. Sedang yang mimpinya tidak indah mendapat bagian makanan yang paling sedikit,” ujar Pendeta dengan cerdiknya. Karena sudah dongkol dan kesal, Abu Nawas menyetujui saja perjanjian itu.
Begitu pagi sudah tiba mereka bertiga sudah bangun. Dengan sangat antusias si Rahib lalu menceritakan mimpinya.
“Luar biasa! Semalam aku bermimpi indah sekali. Aku memasuki sebuah taman yang mirip sekali dengan Nirwana. Aku merasakan suatu kenikmatan dan keindahan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku,” ujar Rahib dengan gembiranya.
“Mimpimu sangat menakjubkan saudara Rahib, sangat menakjubkan…,” ujar si Pendeta dengan agak berlebihan.
“Mimpiku pun tak kalah indahnya,” ujar Pendeta, “Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Aku menyusup ke masa silam di mana pendiri agamamu hidup. Dan sungguh sangat membahagiakan aku bertemu dengannya dan kemudian aku diberkati olehnya,” ujar sang Pendeta dengan gembiranya.
“Seperti tadi, kini giliran Rahib memuji-muji mimpi si Pendeta. Sementara Abu Nawas diam saja melihat kelakuan dua orang yang memang bersekongkol memperdayai dirinya itu.
“Hai Abu Nawas, kenapa kau diam saja. Apa mimpimu semalam, apakah seindah mimpi kami?” ujar si Rahib dan Pendeta hamper bersamaan.
Abu Nawas yang sudah tahu dirinya tengah dikerjai, hanya berujar pelan.
“Kawan-kawanku sepengembaraan. Kalian tentu mengenal Nabi Daud as. Beliau adalah Nabi yang ahli berpuasa, tadi malam aku bermimpi bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Beliau menanyakan apakah aku berpuasa atau tidak. Karena aku belum makan dari pagi, maka aku bilang saja bahwa aku berpuasa. Tidak tahunya beliau menyuruhku berbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani membantah perintah seorang Nabi. Makanya aku bangun dan langsung menghabiskan semua makanan,” ujar Abu Nawas dengan santainya.

Kuah Dibalas Makjun

Di mata Khalifah Harun al-Rasyid figur Abu Nawas memang lihai, dia tidak hanya lucu tetapi juga bijaksana sehingga tidak dapat dipandang enteng. Di satu pihak hal itu sangat membanggakan khalifah, tetapi di lain pihak, sangat menjengkelkannya, karena ia suka kurang ajar dan tidak tahu diri. Oleh karena itu baginda tidak pernah berhenti memeras otak untuk dapat membalas Abu Nawas.
Pada suatu hari di bulan Rabiulawal, baginda khalifah tersenyum simpul sendiri sambil bergumam, “Awas kau, Abu Nawas, kali ini pasti kena.”
Seperti biasa setiap bulan Rabiulawal, Sultan Harun Al-Rasyid menyelenggarakan acara Maulid Nabi di istana. Pada saat itu semua pembesar negeri hadir termasuk putra-putra mahkota dari negeri-negeri sekitarnya, tapi Abu Nawas tidak tampak.
“Panggil dia kemari,” perintah khalifah kepada punggawa.
Setelah Abu Nawas datang menghadap, dimulailah acara hari itu. Semua hadirin dipersilahkan berdiri, kemudian masing-masing disirami air mawar yang menebarkan bau sangat harum, kecuali Abu Nawas. Ia disiram dengan air kencing.
Sadarlah Abu Nawas, bahwa dia dipermalukan khalifah didepan para pembesar negeri. Ia bungkam seribu basa, namun di dalam hati ia berkata, “Oke, khalifah, hari ini kau beri aku kuah, esok akan kubalas kamu dengan isinya.”
Selesai upacara, semua orang pamitan kepada baginda dan pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Abu Nawas.
Sejak itu Abu Nawas tidak pernah menginjakkan kakinya ke Istana. Tak kurang khalifah pun rindu berat kepadanya. Karena bagaimanapun Abu Nawas selalu dapat menghibur hatinya. Ada saja celotehan-celotehan Abu Nawas yang membuat suasana balairung jadi hidup.
Ketika khalifah memanggilnya, Abu Nawas tidak bersedia memenuhi panggilan itu, dengan alasan sakit, meski panggilan tersebut disampaikan terus menerus. Setiap kali punggawa datang setiap kali itu pula Abu Nawas bilang sakitnya makin serius.
Baginda pun khawatir dengan sakitnya Abu Nawas, maka ditengoknya Abu Nawas ke rumahnya di iringi beberapa orang petinggi kerajaan.
Mendengar khalifah menuju ke rumahnya, Abu Nawas buru-buru pasang aksi. Mata terpejam, badan tergeletak lemah lunglai. Namun sebelum itu ia telah menyuruh istrinya menyiapkan obat makjun, ramuan obat yang dibuat seperti dodol bulat, dan dua butir di antaranya dibubuhi tinja. Abu Nawas menelan sebutir obat itu ketika baginda sudah sampai di depannya.
“Hai Abu Nawas, apa yang kamu telan itu?” tanya khalifah.
“Inilah yang disebut obat makjun,” jawab Abu Nawas masih dalam posisi telentang. “Resepnya hamba peroleh tadi malam lewat mimpi. Seorang tua menghadap hamba dan berpesan agar obat makjun ini hamba telan dua butir, niscaya sembuh,” setelah Abu Nawas menelan sebutir lagi dan tampak badannya segar layaknya orang sembuh dari sakit.
“Kalau begitu aku juga mau makan obat makjun itu,” kata khalifah.
“Baiklah, tuanku,” kata Abu Nawas. “Bila paduka akan menelan obat ini, hendaklan berbaring seperti hamba sekarang ini, tidak boleh sambil duduk, apalagi dengan berdiri.”
Maka baginda pun berbaring.
“Pejamkan mata tuanku,” kata Abu Nawas.
Begitu mata Sultan terpejam, Abu Nawas cepat-cepat memasukkan butiran makjun itu ke mulut khalifah. Tiba-tiba khalifah bangkit karena obat itu menyangkut di batang tenggorokannya. Sambil membelalakkan matanya, Sultan berkata keras-keras. “Hai, Abu Nawas, kamu beri aku makan tinja ya?”
Maka Abu Nawas pun menghormat sambil berkata, “Dulu baginda memberi hamba kuahnya, sekarang hamba memberi baginda isinya. Jikalau baginda tidak memberi hamba uang seratus dinar, kejadian ini akan hamba ceritakan kepada khalayak ramai.”
“Diam kamu, jangan ngomong kepada siapa-siapa, nanti ku beri kau uang seratus dinar ,” kata khalifah.
Setelah itu khalifah dan semua pengiringnya kembali ke Istana, menyiapkan pundi-pundi berisi uang seratus dinar.

Agama Bukan Untuk Cari Makan

Agama  sudah dijual beli atau diperdagangkan
Ilmunya sudah dijadikan oleh setengah orang  dikomersialkan
Islam telah dijadikan gelanggang cari  makan,
tanpa  malu dan segan  dengan Tuhan
Kalau tidak dibayar upah tidak akan disampaikan
Sanada berbentuk dakwah motivasi dan nasyid- nasyid
Di hadapan  ramai atau orang,
Padahal hak Tuhan di wajibkan  disampaikan kepada setiap insan,
Bermula dari  Nabi sebagai contoh
Hinggalah  kepada umat  Islam yang pandai di akhir zaman,
Para-para Nabi telah membuat pengakuan di dalam Al Quran,
Apa yang disampaikan  bukan minta dibayar
Cukuplah sudah Tuhan yang membayar,
Para Nabi menyampaikan ilmu Islam sebagai kewajipan
Kalau tidak satu kesalahan
Tiba-tiba di akhir zaman di kalangan umat menjadikan agama tempat cari makan
Kalau orang bagi tanpa diminta atau tawar-menawar tidaklah menjadi kesalahan
Yang salah menetapkan upah atau bayaran
Kalau tidak, tidak jadi disampaikan
Mereka-mereka ini tidak takutkah kepada Tuhan
Agama walau disampaikan bentuk apa sekalipun wajib disampaikan
Ia bukan tempat cari makan atau untuk tempat mendapat bayaran
Begitu berani mereka itu menjual agama untuk mencari makan
Padahal Tuhan telah memberi ingatan di dalam Al Quran
Janganlah menjual ayat-ayatku  dengan harga yang murah
Mengambil upah dari agama kerana cari makan
Dianggap oleh Tuhan harga murahan
Tuhan menyuruh menyampaikan untuk keredhaan-Nya
Itulah yang mahal di sisi Tuhan,
Tiba-tiba kita mengambil upah di dunia melalui
agama memanglah itu barang murahan
Aku ingatkan diriku dan tuan-tuan sekalian,
Marilah kita  takut kepada Tuhan
Kalau hendak cari makan banyak jalan dan cara boleh kita lakukan
Bukan menggunakan agama mencari makan atau mencari kekayaan,
Sekian sebagai ingatan kepada tuan-tuan
Harap maaf  kerana teguran

Kalam

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
[QS. Al-Baqarah : 213]
Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.
[QS. Yûnûs : 19]
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
[QS. Al-Mâidah : 48]
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.
[QS. Hûd : 118-119]
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.
[QS. As-Sajdah : 25]
Sesungguhnya (agama) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.
[QS. Al-Mu'minûn : 52]
Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan hanya kepada-Nyalah kami berserah diri.
[QS. Al-Ankabût : 46]

Kisah Seorang Wali dalam Alquran

Tentu di antara Anda ada yang pernah mendengar kisah “kesaktian” para wali atau habib. Ada yang bercerita kepada saya tentang seorang wali yang membangun masjid di tengah laut, seorang habib yang rumahnya tidak dimasuki air padahal satu kota kebanjiran, atau seorang habib yang “menggeser” sebuah masjid dengan cara menendangnya.
Kesaktian para wali tersebut memang di luar akal. Karena itu banyak di antara kita (juga tanpa akal) langsung menghormati para wali tersebut dengan meminta air darinya, menciumi tangannya, demi keberkahan dari kekasih Allah tersebut.
Dari mana kesaktiannya itu? Jika memang waliullah, tentu berasal dari Allah karena keikhlasannya dalam beribadah, tanpa memandang mazhab. Banyak wali-wali dari ahlusunah, tapi juga tidak sedikit wali berasal dari mazhab Syiah. Intinya, keikhlasan dalam beribadah. Toh di akhirat kita tidak akan ditanya dari mazhab apa kita berasal.

Walaupun demikian ada sebagian “wali” yang merasa lebih suci dari kelompok lain menganggap mengambil berkah (tabarruk) dari para waliullah atau habib itu sebagai bidah dan pelakunya musyrik. Ini tema lain yang butuh postingan baru lagi. Inti postingan ini bukan disitu. Tapi mengenai kisah seorang wali dalam Alquran. Siapakah dia?
Namanya Ashif bin Barkhiya. Ia adalah murid dari Nabi Sulaiman as. Apa kesaktiannya? Bagi yang sering baca Quran atau kisah-kisah para nabi tentu tahu, yakni, memindahkan singgasana Ratu Bilqis dengan singkat, sangat singkat, mengalahkan kecepatan dan kesaktian jin Ifrith.
Ifrith dari golongan jin berkata, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml : 39)
Kemampuan jin Ifrith itu sebenarnya sudah sangat luar biasa. Tapi masih kalah dengan kemampuan sang wali, Ashif bin Barkhiya, yang mengatakan, “Tutuplah kedua mata Anda, dan kemudian bukalah, niscaya singgsana itu sudah ada di hadapan Anda.” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, “Aku akan membawa singgsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (QS. An-Naml : 40).
Inilah contoh nyata dan tak terbantahkan dari Alquran mengenai kebenaran akan kemampuan orang-orang yang mempunyai “kesaktian” karena ikhlas beribadah karena Allah. Ikhlas mempelajari ilmu-ilmu Allah (dalam Al-Kitab) dan patuh akan perintah Nabi Allah.
Imam Jafar Shadiq as. berkata, “Ilmu Ashif bin Barkhiya, dibandingkan dengan Alquran dan dibandingkan dengan ilmu kami tak ubahnya seperti setetes air di lautan.” Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad. Wallahualam.

Kata-kata mutiara islam

  • Ada dua perkara yang jika Anda Amalkan, Anda akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Menerima sesuatu yang tidak Anda sukai, jika sesuatu itu disukai Allah. Dan membenci sesuatu yang Anda sukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah.”
    (Abu Hazim)
  • Ada enam perkara, apabila dimiliki oleh seseorang maka telah sempurnalah keimanannya : (1) memerangi musuh Allah dengan pedang, (2) tetap menyempurnakan puasa walaupun di musim panas, (3) tetap menyempurnakan wudhu walaupun di musim dingin, (4) tetap bergegas menuju mesjid (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) walaupun di saat mendung, (5) meninggalkan perdebatan dan berbantah-bantahan walaupun ia tahu bahwa ia berada di pihak yang benar dan (6) bersabar saat ditimpa musibah.”
    (Yahya bin Muadz)
  • Ada tiga golongan orang yang paling menyesal pada hari kiamat : (1) orang yang memiliki budak ketika di dunia, ternyata pada hari kiamat budak tersebut memiliki prestasi amal yang lebih baik darinya, (2) orang yang mempunyai harta tetapi tidak mau bersedekah dengannya sampai ia meninggal dunia, kemudian harta tersebut diwarisi oleh orang yang memanfaatkan harta tersebut untuk bersedekah di jalan Allah, dan (3) orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mau mengambil manfaat dari ilmunya, lalu ilmu tersebut diketahui oleh orang lain yang mampu mengambil manfaat darinya.”
    (Sufyan bin ‘Uyainah)
  • Akhlak yang paling mulia adalah menyapa mereka yang memutus silaturahim, memberi kepada yang kikir terhadapmu, dan memaafkan mereka yang menyalahimu.”
    (HR Ibnu Majah)
  • Aku belum pernah melihat orang yang paling lama bersedih daripada al-Hasan. Ia berkata, kita tertawa, sementara bisa jadi Allah yang telah melihat amal-amal yang telah kita perbuat berfirman, ‘Aku tidak mau menerima amal-amal kalian sedikitpun.’”
    (Yunus bin ‘Ubaid)
  • Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.”
    (HR Abu Daud)
  • Aku menangis bukan karena takut mati atau karena kecintaanku kepada dunia. Akan tetapi, yang membuatku menangis adalah kesedihanku karena aku tidak bisa lagi berpuasa dan shalat malam.”
    (‘Amir bin ‘Abdi Qais)
  • Aku tidak suka menjadi seorang pedagang budak. Akan tetapi, menjadi pedagang budak lebih aku sukai daripada aku menimbun bahan makanan sambil menunggu naiknya harga yang memberatkan sesama muslim.”
    (Yazid bin Maisaroh)
  • Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amal itu ikhlas tapi tidak benar, maka tidaklah diterima. Jika amal itu benar tapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima kecuali jika dilakukan secara ikhlas. Ikhlas artinya dilakukan hanya karena Allah. Adapun benar artinya adalah sesuai dengan sunnah (tuntunan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).”
    (Fudhail bin ‘Iyadh)
  • Apa pendapat Anda bila ada seseorang yang pakaiannya terkena air kencing, lalu ia hendak mensucikannya dengan air kencing pula? Mungkinkah air kencing itu dapat mensucikannya? Tentu saja tidak! Kotoran tidak dapat disucikan kecuali dengan sesuatu yang suci. Begitu pula halnya keburukan yang pernah kita lakukan, tidak akan dapat terhapus kecuali dengan memperbanyak melakukan kebaikan.”
    (Sufyan ats-Tsauri)
  • Apabila akhirat ada dalam hati, maka akan datanglah dunia menemaninya. Tapi apabila dunia ada di hati maka akhirat tidaklah akan menemaninya. Itu karena akhirat mulia dan dermawan, sedangkan dunia adalah hina”
    (Abu Sulaiman Ad Daroni)
  • Apabila Anda berharap agar Allah senantiasa menganugerahkan kepada Anda apa-apa yang Anda cintai dan sukai maka hendaklah Anda senantiasa menjaga dan melaksanakan apa-apa yang dicintai dan disukai oleh Allah.”
    (Salah seorang ahli hikmah)
  • Apabila kalian senang Allah ta’ala dan Rasul-Nya mencintai kalian, maka tunaikanlah amanah kalian, dan benarlah jika berbicara, dan bertetanggalah dengan baik kepada tetangga kalian.”
    (HR Imam Suyuthi)
  • Ayahku pernah mengatakan bahwa apabila ‘Ali bin al-Husain selesai berwudhu dan telah bersiap untuk shalat, tubuhnya akan gemetar dan menggigil. Pernah ada seorang lelaki yang bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ‘Ali bin al-Husain menjawab, ‘Celakalah Engkau! Tidakkah kau tahu, kepada siapa aku akan menghadap? Dan kepada siapa aku akan bermunajat?’”
    (al-’Utaibi)
Semoga bermanfaat.

Jumat, 09 Maret 2012

Bunga Ashar Kembang Pukul Empat

Bunga ashar dikenal juga sebagai kembang pukul empat atau Four o’clock plant yang dalam bahasa latin disebut Mirabilis jalapa L. Meskipun bunga ashar atau kembang pukul empat bukan bunga asli Indonesia melainkan berasal dari Meksiko, namun bunga ashar ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Lampung.
Dinamakan bunga ashar atau asar dan kembang pukul empat lantaran kebiasaan bunga ini yang mekar pada sore hari sekitar pukul empat sehingga pada jaman dulu masyarakat Lampung menggunakannya sebagai pertanda masuknya waktu sholat Ashar. Karena itu bunga ashar atau kembang pukul empat sering ditanam di pekarang atau di depan surau.
Tumbuhan hias ini sering disebut juga sebagai kederat, segerat, tegerat (Jawa), noja (Bali), pukul ampa (Minahasa), bunga tete apa, bunga-bunga parangghi (Makasar), bunga-bunga parengki (Bugis), lore laka (Timor), kupa oras (Ambon), Cako rana (Ternate), kembang asar (Lampung), kembang pagi sore, kempang pukul empat, bunga waktu kecil (Melayu).
Bunga ashar atau kembang pukul empat
Bunga ashar atau kembang pukul empat
Sedangkan dalam bahasa Inggris bunga ini disebut Four o’clock plant. Nama latin tumbuhan ini adalah Mirabilis jalapa. Nama “Jalapa” diambil dari nama sebuah kota di Meksiko. Sinonimnya antara lain Jalapa congesta Moench, Nyctago jalapae (L.) DC., Mirabilis xalapa Noronha, Mirabilis suaveolens Billb. ex Beurl., dan Mirabilis planiflora Trautv.
Ciri-ciri Bunga Ashar. Tanaman hias ini mempunyai bunga berbentuk menyerupai terompet kecil. Warna bunganya beraneka ragam sesuai dengan jenisnya. Ada yang merah, putih, kuning, bahkan kadang-kadang dalam satu pohon terdapat warna campuran.
Batang bunga ashar (Mirabilis jalapa) tegak, bulat, permukan licin, dan bercabang-cabang dengan tinggi sekitar 50-80 cm. Daunnya berbentuk hati dengan ujung runcing. Panjang daunnya sekitar 3 – 15 cm dengan lebar antara 2 – 9 cm. Bijinya berbentuk bulat berkerut. Pada waktu muda bijinya berwarna hijau, kemudian berubah menjadi hitam kehitaman. Akhirnya pada saat matang bewarna hitam sepenuhnya.
Meskipun bukan tumbuhan asli Indonesia, tetapi bunga ashar sekarang tumbuh tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Tanaman yang kemudian ditetapkan menjadi bunga khas provinsi Lampung ini dapat tumbuh pada dataran rendah hingga daerah berketinggian 1.200 meter dpl. Perbanyakan tumbuhan ini dapat dilakukan dengan biji.
Bunga ashar atau kembang pukul empat
Bunga ashar atau kembang pukul empat
Pemanfaatan Bunga Pukul Empat. Kembang pukul empat atau bunga ashar selain digunakan sebagai penanda masuknya waktu sholat ashar, sejak jaman dahulu sudah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Salah satu manfaat bunga ashar adalah sebagai tanaman obat. Beberapa bagian yang dapat dimanfaatkan sebagai obat antara lain daun Mirabilis jalapa yang berkhasiat sebagai obat bisul dan akarnya yang dapat digunakan untuk mengobati sembelit dan bengkak. Manfaat lain adalah bijinya yang dapat dijadikan bedak setelah menambahkannya dengan bahan-bahan lain.
Syukur, bunga ashar atau kembang pukul empat atau Four o’clock plant atau Mirabilis jalapa bukan termasuk salah satu tumbuhan langka di Indonesia. Meskipun saat sekarang sudah jarang yang menggunakannya sebagai penanda masuknya waktu sholat ashar.
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Caryophyllales; Famili: Nyctaginaceae; Genus: Mirabilis; Spesies: Mirabilis jalapa.

 

Rabu, 07 Maret 2012

MANFAAT DARI PADA SHOLAT DHUHA

Segala puji hanyalah milik ALLAHU Rabbi yang Maha Suci lagi Maha Agung, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. sholawat serta salam kita sanjungkan kepada baginda nabi semoga senantiasa kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta istri dan keluarga beliau.

Sunat Dhuha adalah salah satu shalat sunat yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka adalah kebaikan bagi kita untuk mengetahui sunnah ini.

Dari Abu Dzar, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
“Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat yang dilaksanakan di waktu Dhuha.” [HR. Muslim, Abu Dawud dan riwayat Bukhari dari Abu Hurairah]

Dari Abu Hurairah, ia berkata:
“Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berwasiat kepadaku tiga perkara: [1] puasa tiga hari setiap bulan, [2] dua rakaat shalat Dhuha dan [3] melaksanakan shalat witir sebelum tidur.” [HR. Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad dan Ad-Darami]

Dari Abud Darda, ia berkata:
 “Kekasihku telah berwasiat kepadaku tiga hal. Hendaklah saya tidak pernah meninggalkan ketiga hal itu selama saya masih hidup: [1] menunaikan puasa selama tiga hari pada setiap bulan, [2] mengerjakan shalat Dhuha, dan [3] tidak tidur sebelum menunaikan shalat Witir.” [HR. Muslim, Abu Dawud, Turmuzi dan Nasa’i]

Dari Anas [bin Malik], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak 12 (dua belas) rakaat, maka ALLAH akan membangunkan untuknya istana di syurga”. [HR. Turmuzi dan Ibnu Majah, hadis hasan]

Dari Abu Said [Al-Khudry], ia berkata:
 Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Dhuha, sehingga kami mengira bahwa beliau tidak pernah meninggalkannya. Dan jika beliau meninggalkannya, kami mengira seakan-akan beliau tidak pernah mengerjakannya”. [HR. Turmuzi, hadis hasan]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Shalat Dhuha itu dapat mendatangkan rejeki dan menolak kefakiran. Dan tidak ada yang akan memelihara shalat Dhuha melainkan orang-orang yang bertaubat.”