“Ya Allah, limpahkanlah shalawat untuk Nabi Muhammad, Ya Allah limpahkanlah salam untuk beliau.”
Penjelasan
Dzikir ke-5 dalam urutan Râtib Al-Haddâd, sudah tidak asing lagi di telinga dan lisan kita. Kaum muslimin telah banyak mengetahui keutamaan dalam membacanya. Ya, dzikir ini adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Telah banyak dalil atau argumentasi yang menjadi dasar membaca shalawat serta keutamaan yang ada di dalamnya. Tidak ketinggalan, para ulama banyak menulis buku-buku yang mengupas secara mendalam tentang amalan yang satu ini.
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shâhibur Râtib, tidak lupa memasukkan shalawat di dalam râtib-nya, karena beliau tahu betapa besar kemuliaan orang yang membaca shalawat. Cukup sebagai bukti keagungan shalawat, manakala dalam shalat dan khutbah jum`at, tidak dibacakan shalawat maka batallah kedua perbuatan tersebut.
Beberapa dalil mengenai membaca shalawat adalah firman Allah SWT :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs. Al-Ahzâb [33] : 56)
Shalawat dari Allah berarti memberi rahmat; dari malaikat berarti memintakan ampunan; dan dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan, ‘Allâhumma shalli `alâ Muhammad.’
Pada suatu hari, wajah nabi terlihat berbinar-binar saat tiba di hadapan para sahabatnya. Memang, setiap hari nabi selalu berwajah ceria ketika bertemu dengan siapapun, namun kali binar wajahnya jauh lebih terang dari biasanya.
Setelah itu, Nabi bersabda, “Baru saja Jibril datang kepadaku. Jibril berkata, ‘Tuhanmu berfirman, “Tidakkah engkau suka, seseorang dari umatmu yang bershalawat untukmu, Aku beri sepuluh rahmat? Dan tidaklah seseorang beruluk salam satu kali untukmu, kecuali aku beruluk salam kepadanya sebanyak sepuluh kali?”’ Keutamaan yang besar dan luar biasa ini langsung disampaikan oleh Allah kepada nabi lewat Jibril: 10 rahmat dan salam diguyurkan kepada diri kita manakala kita membaca shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu, tidak cukup hanya membaca shalawat saja seperti yang sering dipahami dan diamalkan selama ini, namun juga mencantumkan ‘salam’ di dalamnya, seperti yang telah ditulis oleh Shâhibur Râtib: “Allâhumma Shalli `alâ Muhammad, Allâhumma Shalli `alaiyhi wa Sallim.”
Mengapa membaca shalawat perlu dibarengi dengan membaca salam pula? Seorang di antara ulama bercerita bahwa di tengah usahanya menulis hadits, ia bershalawat untuk nabi namun tanpa beruluk salam. Suatu malam, ia bermimpi Nabi SAW lalu nabi berkata kepada ulama ini, “Mengapa engkau tidak menyempurnakan shalawat untukku dalam buku yang kamu tulis?” Setelah terjaga dari tidurnya, mulai sejak itu ia selalu menulis shalawat dan salam.
Lebih dari itu, keutamaan bagi orang yang banyak membaca shalawat dan salam masih terlalu panjang untuk disampaikan. Namun beberapa hal yang perlu kita ketahui, akan kita sampaikan secara ringkas.
Di masa Nabi Musa, hiduplah seseorang dari Bani Israil yang membuka Kitab Taurat. Di sela membaca, ia menemukan nama Muhammad SAW, kemudian ia membaca shalawat kepada nabi. Berkat ia membaca shalawat ini, Allah memberikan ampunan kepadanya dan memerintahkan Nabi Musa untuk memandikan dan menshalati jenazahnya.
Abdullah bin Umar meriwayatkan hadits yang artinya, “Barangsiapa membaca shalawat untuk Nabi SAW satu kali, Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat sebanyak tujuh puluh kali.
Orang yang membaca shalawat, kelak tempat duduknya dekat dengan Rasulullah: “Sesungguhnya manusia yang utama (dekat) di sisiku adalah manusia yang paling banyak membaca shalawat untukku.”
Orang yang membaca shalawat, diberi 10 rahmat dan 10 pengampunan dosa : “Barangsiapa di antara umatmu yang membaca shalawat untukku satu kali, dicatat baginya 10 kebaikan dan dihapuskan 10 kesalahannya.”
Selain itu, membaca shalawat lebih diutamakan pada malam Jum`at dan hari Jum`at, seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas, “Aku mendengar Nabi kalian bersabda, ‘Perbanyaklah membaca shalawat untuk nabi kalian pada malam Jum`at dan hari Jum`at.”
oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar