“Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir, Kami bertaubat kepada Allah lahir dan batin.”
Penjelasan
Kalimat Â-mannâ BIl-Lâh wal Yaumil Âkhir dalam dzikir ini merujuk pada firman Allah SWT :
قُولُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا “Katakanlah (Hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami.” (Al Baqarah [02] : 136)
Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa membaca surat Al-Mursalât kemudian sampai di ayat ke-50 : فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُون, “hendaklah dia membaca ‘Â-mannâ Bil-Lâh.’”
Membaca dzikir ini tidak cukup di lisan semata. Bukti dan hakikat ucapan itu jauh lebih penting untuk dilaksanakan. Keimanan hakiki ada dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bertawakkal, menegakkan shalat, berinfak, selalu bertaubat, melakukan amar ma`ruf-nahi munkar.
Ucapan Tubnâ Ila-Lâh Bâtinan Wa Dzâhir dalam dzikir ini, memberi peringatan kepada seorang hamba untuk bertaubat. Baik dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah, telah banyak menjabarkan kaitan taubat seorang hamba dalam kehidupannya. Allah SWT berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Qs. An-Nur [24] : 31).
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”
Sayidina Lukman berwasiat kepada putranya, “Wahai anakku, jangan engkau menunda taubat sesungguhnya kematian itu akan datang secara tiba-tiba.” Oleh karenanya, selama hayat masih di kandung badan, selama matahari masih terbit dari timur, nyawa masih bersemayam dalam diri, maka pintu masih terbuka lebar-lebar bagi kita semua. Membaca dzikir ini, berarti sudah ada kemauan untuk bertaubat kepada Allah secara lahir maupun batin.
Walaupun banyak di antara manusia yang setelah bertaubat ia kembali pada perbuatan dosa atau usai melakukan dosa ia bertaubat, namun jangan sampai membuatnya berkecil hati lalu putus asa dengan mengatakan, “Rasanya tidak pantas sudah aku bertaubat. Sebab diriku sering taubat terus maksiat, maksiat terus taubat.” Jangan sampai pernyataan dan keadaan ini terjadi. Karena Allah sendiri telah berfirman kepada orang-orang yang melampaui batas-batas diri dengan aneka maksiat, agar tidak berputus asa, kecewa, lalu meninggalkan taubat. Tetapilah jalan taubat.
Mengenai pertanyaan yang sering muncul, apakah seorang hamba bisa mengetahui taubatnya diterima atau ditolak? Sebagian ahli hikmah mengatakan, bahwa tidak ada yang bisa mengetahui apakah taubatnya ditolak atau diterima. Akan tetapi, tanda-tanda taubat seseorang itu diterima, bisa diketahui :
1. Setelah bertaubat, dirinya lebih terjaga dari perbuatan maksiat 2. Orang yang bertaubat cedas mengelola hati sehingga ia isi dengan hal-hal yang membahagiakan 3. Berusaha untuk akrab dan dekat dengan kaum shalihin dan menjauhi orang-orang yang berbuat kejahatan 4. Orang yang bertaubat senantiasa merasa bahwa rezeki dunianya serasa banyak padahal sebenaranya sedikit 5. Orang yang bertaubat adalah orang yang selalu merasa tabungan akhiratnya masih sedikit padahal telah banyak amal kebaikan yang sudah dilakukan 6. Hatinya sibuk dengan memburu karunia Allah 7. Cerdas menjaga ldahnya 8. Selalu bertafakkur 9. Menetapi jalan penyesalan dengan sesungguh-sungguhnya.
oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar