“Kami Ridha, Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi kami.”
Penjelasan
Imâm Nawawi menulis dalam kitab Al-Adzkâr-nya, telah diriwayatkan oleh Turmudzi dari Tsauban bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Barangsiapa membaca di waktu sore hari ‘Radhînâ Bil-Lâhi Rabban, wa bil-Islâmi Dînan, wa bi Muhammadin Nabiyyâ’ maka berhak atasnya mendapat keridhaan dari Allah.”
Dalam riwayat berbeda, dari Abu Sa`id Al-Khudriy bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya : “Wahai Abu Sa`id, barangsiapa yang ridha Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai Nabinya, maka surga wajib untuknya.” Dan beliau SAW juga menandaskan, “Seseorang yang membaca, ‘Radhîtu Bil-Lâhi Rabban, wa bil-Islâmi Dînan, wa bi Muhammadin Nabiyyâ’ niscaya akan merasakan nikmatnya iman.”
Imâm Abdullâh bin Alwi Al Haddâd, penyusun ratib ini, menjelaskan tentang makna dzikir ke-8 itu dalam kitabnya An-Nashâih Ad-Dîniyyah, bahwa ucapan ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, tidak cukup di lisan semata, namun harus hadir dalam kesehariannya. Seorang hamba yang mengatakan “Aku Ridha kepada Allah sebagai Tuhanku” harus ia buktikan dalam amal nyata, rela dengan takdir-Nya, rela dengan rezeki yang telah diberikan Allah kepadanya, melaksanakan segala kewajiban, menjauhi larangan-larangan-Nya.
Selain itu, kata Imam Abdullah, orang yang menyatakan “Aku Ridha kepada Allah sebagai Tuhanku,” ia harus bersabar atas ujian dan cobaan, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, memiliki keinginan untuk berjumpa dengan-Nya, pasrah dan tawakkal, menambatkan segala hajatnya kepada Allah, dan ikhlas beribadah di jalan-Nya.
Imam Abdullah juga menjelaskan makna “Islam sebagai agamaku,” juga harus ia buktikan dalam hidupnya dengan terus membela keagungan Islam, gigih dalam beramal dan mencari ilmu, memuliakan keluarganya, tidak menyukai golongan yang kufur dan ingkar terhadap Islam.
Sedang mengenai ucapan “Aku ridha Muhammad sebagai Nabiku”, kata Imam Abdullah, berarti ia harus selalu mengikuti segala petunjuk dan syariatnya, berpegang teguh dengan sunnahnya, menunaikan hak-haknya, memperbanyak membaca shalawat dan salam, mencintai keluargnya (ahlul baiyt), saling mencintai, mengasihi, dan member nasihat di antara sesama muslim.
Setelah menguraikan makna dzikir tersebut, beliau menyimpulkan demikian, “Wahai orang beriman, Seyogianya engkau selalu menuntut dirimu untuk bisa mewujudkan makna-makna ini. Jangan pernah merasa puas hanya dengan ucapan di lisan semata, sebab meski tetap ada manfaatnya, namun hanya sedikit.”

oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar