Senin, 09 April 2012

Dzikir ke-9



بِسْمِ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، الْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ
“Dengan Nama Allah dan segala puji bagi-Nya, segala kebaikan serta kejahatan adalah dengan kehendak Allah.”

Penjelasan

Dzikir ini diawali menyebut nama Allah (Bismil-Lâh). Kandungan dalam makna Bismil-Lâh sangat banyak. Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Seandainya aku ingin, akan kupenuhi 80 onta dengan kitab yang berisi makna huruf Bâ` (dari kata Bismil-Lâh).”

Sebagian kaum arifin mengatakan perihal keutamaan membaca Bismil-Lâh beberapa rincian ini :
-    Dengan  Bismil-Lâh, perahu Nabi Nuh selamat dalam pelayarannya
-    Dengan  Bismil-Lâh, jiwa dan ruh dapat menjadi selamat
-    Dengan  Bismil-Lâh, perahu bisa selamat dari angin topan
-    Dengan  Bismil-Lâh, seorang mukmin selamat dari api neraka
-    Dengan  Bismil-Lâh, umat memperoleh nikmat
-    Dengan  Bismil-Lâh, kaum mukmin selalu mendapatkan kemuliaan
-    Dengan  Bismil-Lâh, setan terusir
-    Dengan  Bismil-Lâh, doa dikabulkan
-    Dengan  Bismil-Lâh, kita membuat Allah ridha
-    Dengan  Bismil-Lâh, sungai-sungai mengalir melimpah ruah
-    Dengan  Bismil-Lâh, keburukan tertutupi
-    Dengan  Bismil-Lâh, keberkahan turun
-    Dengan  Bismil-Lâh, kita terselamatkan dari hal-hal yang menghancurkan
-    Dengan  Bismil-Lâh, di dalamnya tersimpan cahaya langit dan bumi

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap perbuatan baik yang tidak diawali dengan membaca Bismil-Lâh –dalam riwayat berbeda membaca ‘Bismil-Lâhir-Rahmâni-Rahîm’- maka akan terputus dari keberkahan.”

Sementara itu, Abu Nu`aim dalam Al-Hilyah meriwayatkan dari Dhahhâk, dari Ibnu Abbâs, ia berkata : “Siapa yang mengucapkan “Bismil-Lâh” ia telah mengingat Allah; siapa yang membaca “Al-Hamdu Lil-Lâh” ia telah bersyukur kepada Allah; dan siapa yang membaca “Lâ Hawla wa Lâ Quwwata Illâ bil-Lâh” ia telah berserah diri dan patuh (kepada Allah). Bagi orang yang membacanya adalah harta simpanan di surga.” Begitu besar manfaat dari membacanya, sehingga dalam Al-Qur`an sendiri nama Allah disebutkan di dua ribu tiga ratus enam puluh (2360) tempat.

Disebutkan oleh Imam Abdul Karim bin Hawazin Al-Qusyairi, bahwa suatu saat Abu `Amr lewat di sebuah jalan besar, tiba-tiba ia melihat kerumunan massa sedang mengusir seorang pemuda dari rumahnya akibat perbuatan rusak yang ia lakukan. Sementara, seorang wanita yang nota bene adalah ibunya hanya bisa menangis sedih melihat anaknya diperlakukan demikian.

Abu `Amr merasa kasihan. Ia datangi kerumanan tersebut guna memberi pertolongan kepada si pemuda yang sedang jadi bulan-bulanan para warga. “Coba, serahkan pemuda ini kepadaku, kali ini saja. Jika dia kembali kepada perbuatannya yang dulu, maka terserah kalian mau kalian apakan,” kata Abu `Amr yang meminta warga menahan diri. Massa kemudian menyerahkan pemuda kepadanya. Setelah itu, Abu Amr membawa pulang kembali ke dalam rumahnya. Ia pun beranjak keluar meneruskan perjalanannya.

Selang beberapa hari, Abu `Amr melewati jalan yang sama. Kali ini, dari luar rumah si pemuda ia mendengar suara tangisan sang ibu. “Jangan-jangan pemuda itu kembali kepada perbuatan tercelanya sehingga ia betul-betul diusir dari rumahnya, dan ibunya saat ini menangis?” gumam Abu `Amr dalam batinnya.

Abu `Amr mengetuk pintu rumah dan si ibu keluar dari rumahnya. Ditanya tentang keadaan anaknya, apa yang telah terjadi kepadanya sehingga si ibu menangis. Si ibu menjawab, “Dia telah meninggal.” “Apa yang terjadi padanya, bagaimana keadaannya ketika ia akan meninggal,” tanya Abu `Amr.

Si Ibu mulai bercerita panjang lebar, “Ketika ajalnya telah dekat, ia berkata kepadaku :
‘Ibu, jangan beritahu tetangga kanan-kiri tentang kematianku, aku telah banyak membuat mereka merasa terganggu, mereka pasti banyak yang jengkel kepadaku, tidak akan mengurus jenazahku. Maka, jika engkau nanti akan menguburkanku, letakkan cincin yang tertulis “Bismil-Lâh” bersama jasadku. Jika engkau telah selesai memakamkanku, berdoalah kepada Allah untuk keselamatan diriku.’

“Akhirnya, aku melakukan apa yang ia minta. Ketika, aku beranjak dari pusara anakku itu, aku mendengar suaranya yang berbunyi, ‘Wahai ibuku, pulanglah, aku telah datang ke hadapan Tuhan yang Mahamulia.’”

Menurut Syaikh Zakariya Al-Anshari, kisah di atas menunjukkan pertaubatan diri sang pemuda dengan taubat yang serius sampai-sampai ia ber-tabarruk (mengambil keberkahan) dan bertawassul dengan nama Allah (Bismil-Lâh), sekaligus ia selamat berkat doa ibunya.




oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad 

Tidak ada komentar: