Minggu, 22 April 2012

Dzikir ke-12


ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَم

“Wahai Tuhan yang mempunyai sifat keagungan dan pemurah, matikanlah kami dalam agama Islam.”

Penjelasan

Kalimat Yâ dzal Jalâli Wal Ikrâm yang disusun oleh Imam Abdullah Al-Haddad dalam Râtib-nya ini, dipetik dari firman Allah SWT:
تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَام
“Maha Agung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia.” (Qs. Ar-Rahman [55] : 78).

Selain dari Al-Qur`an, kalimat tersebut juga diambil dari sabda Nabi SAW, seperti dinukil oleh Imam Nawawi dalam Al-Adzkâr bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hendaknya kalian selalu memperbanyak doa dengan menyebut Yâ dzal Jalâli Wal Ikrâm.” Atas hal ini, Imam Abdullah menjadikan dzikir ini dibaca sebanyak tujuh kali, karena mengikuti anjuran Nabi.

Diriwayatkan, Nabi SAW pernah mendengar seseorang berkata Yâ dzal Jalâli Wal Ikrâm, lalu Nabi berkata kepada orang tersebut, “Doamu akan dikabulkan, maka mintalah sekarang kepada Allah.” (HR. Turmudzi). Bahkan Yâ dzal Jalâli Wal Ikrâm  masuk dalam 99 nama Allah (Asmâ`ul Husnâ), sehingga Imam Abdullah menggunakan dua sifat Allah sebagai sarana bertawassul dengan menggabungkan doa permohonan agar dimatikan dalam Islam, sebagaimana perintah Allah:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Qs. Ali `Imrân [03] : 102).

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihyâ` `Ulûmid Dîn, mengisahkan sebuah cerita yang datangnya dari seorang ulama yang telah dibuka tirai penghalang antara dia dengan rahasia Allah (Kasyaf). Ulama ini melihat Iblis dalam bentuk seorang laki-laki. Bentuk fisiknya : tubuhnya kurus kering, kulitnya memucat, kedua matanya menitikkan air mata, punggungnya ringkih sehingga berjalan tertatih-tatih.

Kemudian, ulama ini bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
“Aku menangis karena melihat orang haji yang berhaji tanpa membawa dagangan, aku khawatir tidak dapat membuat mereka tergoda oleh dunia karena ia khusyu` dalam ibadah hajinya. Inilah yang membuatku sedih.”

“Lalu, apa yang membuat tubuhmu kurus sedemikian rupa?”
“Ringkikan unta di jalan Allah, seandainya suara unta itu sedang berada di jalanku, jalan maksiat, niscaya aku akan senang.”

“Lantas, apa yang membuat kulitmu menjadi pucat?”
“Kulitku berubah menjadi pucat karena sikap tolong-menolong sekelompok umat dalam jalan ketaatan. Coba, sekiranya mereka bersikap tolong-menolong dalam kemaksiatan, tentu menjadi sesuatu yang paling mengembirakan diriku.”

“Dan apa yang membuat punggungmu ringkih berjalan tertatih-tertatih seperti ini?”
“Yang membuat punggungku seperti ini disebabkan ucapan seorang hamba ‘As-a-luka Husnal Khâtimah’ (aku meminta akhir yang baik pada-Mu), mendengar doa hamba ini membuatku berkata, ‘celakalah diriku, kapan ia akan membanggakan amalnya saja. Aku khawatir ia telah mengetahui cara mati dalam keadaan yang mulia.”

Lewat keterangan dan penjelasan di atas, kita semakin yakin bahwa dzikir ini menjadi anak tangga menggapai kematian yang indah, baik, dan bahagia. Maka dari itu, seyogianya kita memperbanyak membaca dzikir ini. Semoga Allah menutup usia kita, orang tua kita, anak-anak kita, orang-orang tersayang di sekitar kita, dan seluruh kaum muslimin dalam keadaan husnul khâtimah.
 
Ya Allah, ambillah nyawaku ketika aku sedang bersujud kepada-Mu atau membaca Al Qur`an.



oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad 

Tidak ada komentar: