ياَ رَبَّناَ وَاعْفُ عَناَّ وَاْمحُ الَّذِي كاَنَ مِناّ
“Ya Tuhan kami, maafkanlah kami dan hapuslah apa-apa (dosa) yang ada pada diri kami.”
Penjelasan
Keutamaan yang terkandung dalam dzikir telah dijabarkan secara cukup panjang lebar pada urutan dzikir ke-10, kecuali penjelasan mengenai permohon maaf kepada Allah, seperti ada pada kata Wa`fu `annâ.
Permohonan maaf dari seorang hamba kepada Tuhannya merupakan petunjuk yang paling jelas tentang pengakuan dosa dan kekurangan yang ada pada dirinya. Dalam keterangan yang ditulis oleh pengarang Syarh Râtib Al-Haddâd, dikatakan bahwa memohon maaf merupakan sikap yang lebih agung dan nyata dari seorang pendosa dibanding dengan sikap memohon ampun.
“Sebab ampunan (dalam bahasa arab disebut maghfirah) bermakna sebagai penutup sedang permohonan maaf berarti penghapusan (al-mahwu). Makna permohonan maaf ini jauh lebih fasih dari makna permohonan ampun,” demikian dikatakan oleh Imam Al-Ghazali seperti dikutip oleh pengarang Syarh Râtib Al-Haddâd.
Rasulullah SAW telah bersabda, “Mintalah ampun dan keselamatan kepada Allah. Tidaklah seseorang diberi kebaikan setelah iman yang lebih baik dari keselamatan.” (HR. Turmudzi).
Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad membagi keselamatan dalam dua bagian : keselamatan lahir dan keselamatan batin. Keselamatan lahir berbentuk keselamatan dari perbuatan dosa, sakit, dan penyakit. Keselamatan batin adalah keselamatan hati dari keragu-raguan, kecemasan, dan memendam niat jahat kepada salah seorang dari umat Islam.
Doa yang berisi permohonan maaf kepada Allah juga dianjurkan oleh Nabi SAW ketika seseorang sedang memburu lailatul qadr di bulan Ramadahan. Salah seorang istri Nabi, Aisyah, pernah bertanya kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, doa apa yang kubaca jika aku menjumpai lailatul qadr?” Rasul menjawab :
اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Memaafkan, menyukai sifat pemaaf, maka maafkanlah (dosa) yang ada padaku.” (HR. Turmudzi, Nasa`i, Ibnu Majah).
Sayidina Abdullah bin Abbas, paman nabi, pernah meminta ‘ijazah’ doa kepada Nabi SAW. “Wahai Rasulullah, ajarilah sesuatu kepadaku untuk bermunajah kepada Allah.”
Nabi menjawab, “Mintalah maaf dan keselamatan untuk kehidupan di dunia dan akhirat.” Pentingnya posisi permohonan maaf seorang hamba, sehingga dari keterangan ini nabi banyak mengetengahkannya kepada kita. Syaikh Ahmad bin Abdul Karim dalam kitabnya Tastbîtul Fuâd, berkata bahwa permohonan maaf seorang hamba akan menjadi penutup aib dan pengampun keburukan.
Maka, marilah kita selalu berdzikir dengan dzikir ini, berdoa memohon kepada Allah agar kita diberi keselamatan dari kemaksiatan dan melanggar perintah-Nya. Dan memohon kepada Allah agar diberi kekuatan untuk selalu berada dalam ketaatan kepada-Nya demi meraih ridha-Nya.

oleh Fadhilah Ratib Al-Haddad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar